264 Siswa Berkebutuhan Khusus Dikdas Ikuti OSN 2012 Diposkan pada 31 Januari 2013

31 Januari 2013

264 Siswa Berkebutuhan Khusus Dikdas Ikuti OSN 2012

Pendidikan yang berkarakter memberikan kesempatan kepada anak penyandang disabilitas berprestasi tidak hanya pada tingkat nasional, tapi juga internasional. Dalam bidang olahraga, sudah puluhan medali emas dipersembahkan oleh penyandang disabilitas pada olimpiade penyandang cacat internasional (special olympic).

Demikian halnya dengan bidang akademik, bahwa keterbatasan pisik dan sosial tidak menjadi halangan bagi mereka untuk berprestasi di bidang matematika, IPA, IT/komputer, dan kewirausahaan.

Oleh karena itu Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) setiap tahun mengikutsertakan ABK ini pada ajang Olimpiade Sains Nasional (OSN). Pada tahun 2012 ini, Kemdikbud melalui Direktorat Pembinaan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus Pendidikan Dasar (Dit.PPK-LK Dikdas) menggelar OSN bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) jenjang pendidikan dasar di Hotel Sanur Paradise, Denpasar, Bali, mulai 2-6 September 2012.

Kategori siswa yang mengiktuti OSN pada jenjang pendidikan dasar ini adalah SDLB/SD inklusif dan SMPLB/SMP Inklusif bidang MIPA, Teknologi Informasi, dan Kewirausahaan.

Tujuan secara umum digelarnya OSN bagi ABK Dikdas ini adalah untuk meningkatkan mutu pendidikan khususnya bidang Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), Teknologi Informasi, dan Kewirausahaan bagi peserta mereka secara komprehensif melalui penumbuhkembangan karakter, budaya belajar, kreativitas dan motivasi untuk meraih prestasi terbaik dengan kompetisi yang sehat serta menjunjung nilai-nilai kejujuran dan sportivitas.

"OSN ini adalah sebagai motivasi ABK Dikdas agar selalu meningkatkan kemampuan intelektual, emosional dan spiritual berdasarkan norma-norma yang sehat sehingga dapat memacu kemampuan berpikir nalar," kata Direktur PPK-LK Dikdas Dr.Mudjito A.K. M.Si.

Selain itu OSN ini juga menjaring peserta didik berkebutuhan khusus yang berprestasi di bidang MIPA, teknologi informasi, dan kewirausahaan untuk diberikan kesempatan mengembangkan potensi, minat, dan bakat yang dimiliki secara lebih luas.

"Pada dasarnya siswa berkebutuhan khusus pada tiga jenis ketunaan, yaitu tunanetra/low vision, tunadaksa, dan tunarungu tidak ada masalah dengan kecerdasan. IQ mereka begitu juga siswa penyandang autis dapat diasah melalui pembinaan dan pendidikan yang komprehensif dan diberikan kesempatan untuk mengikuti sejumlah event seperti ini," tegas Mudjito.

Pada OSN ABK Dikdas kali ini ada delapan jenis lomba diikuti oleh dari total peserta 264 dari 33 provinsi. Mereka adalah duta-duta provinsi. Siswa tunanetra mengikuti dua jenis lomba, yaitu:
1. Cerdas Cermat MIPA SDLB/Inklusi.
2. Cerdas Cermat MIPA SMPLB.

Sedangkan enam jenis lomba lainnya diikuti oleh siswa tunarungu atau tunadaksa atau autisme, yaitu:
1. Olimpiade Matematika SDLB/Inklusi.
2. Olimpiade IPA SDLB/Inklusi.
3. Olimpiade Matematika SMPLB.
4. Olimpiade IPA SMPLB.
5. Lomba IT (komputer) SMPLB/Inklusif.
6. Lomba Kewirausahaan SMPLB/Inklusif.

Inclusive Award


Bersamaan dengan ajang OSN ABK Dikdas itu Kemdikbud kembali memberikan Inclusive Education Award kepadalembaga dan perorangan yang memiliki komitmen tinggi pada pendidikan inklusif. Pemberian penghargaan yang kedua kalinya ini setelah OSN tahun 2011 lalu di Manado, sebagai upaya pemerintah untuk mengembangkan pendidikan inklusif yang tidak diskriminatif di seluruh Tanah Air.

Direktur PPK-LK Dikdas Mudjito mengatakan penghargaan itu diberikan kepada empat kategori yang peduli dengan pendidikan inklusif yaitu gubernur, bupati/walikota, rektor dan perorangan (guru, kepala sekolah dan masyarakat). "Penghargaan yang kedua ini diseleksi secara ketat dan bersifat independen," katanya.

Mudjito mengatakan pada tahun 2008 jumlah sekolah umum/reguler dari jenjang SD, SMP dan SMA sebagai penyelenggara pendidikan inklusif yang menerima siswa penyandang ketunaan atau ABK sekitar 254 sekolah. "Ratusan sekolah tersebut memiliki siswa kurang dari 2.000 ABK seperti tunadaksa, tunagrahita, tunalaras, ADHD, disleksia, downsyndrome dan autis. Dan jumlah sekolah ini terus bertambah, tahun 2011 ada sebanyak 1.664 sekolah penyelenggara pendidikan inklusif, dan data terakhir per Agustus 2012 sudah mencapai 1.829 sekolah penyelenggara pendidikan inklusif,"