OS2N, Implementasi Penjas Adaptif ABK Diposkan pada 28 Desember 2012

28 Desember 2012

OS2N, Implementasi Penjas Adaptif ABK

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) tahun 2012 melenggarakan kembali Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) yang kelima. Sebanyak 3.492 siswa se-Indonesia mulai tingkat SD, SMP, SMA, SDLB/SMPLB dan SMALB mengikuti O2SN di Kota Palembang, Sumatera Selatan, tanggal 8-12 Juli 2012.

Anak berkebutuhan khusus (ABK) jenjang pendidikan dasar yaitu SDLB dan SMPLB sebanyak 198 siswa yang terdiri atas 33 provinsi mengirimkan dutanya masing-masing 6 siswa untuk mengikuti 6 jenis lomba yaitu Bulutangkis putra SDLB tunarungu, Lompat jauh putri SMPLB tunarungu, Balap kursi roda 100 meter putra SMPLB tunadaksa, Lari 60 meter putri SMPLB tunagrahita, dan Lari 50 meter putra SDLB tunagrahita yang diselenggarakan 10-11 Juli 2012 di GOR Jakabaring.

Sedangkan lomba Catur putra-putri SDLB/SMPLB tunanetra diselenggarakan di Ballroom Hotel Duta, 10-11 Juli 2012. Disamping itu di sela-sela OS2N di Bumi Sriwijaya ini, diperkenalkan cabang olahraga baru bagi anak penyandang tunagrahita yaitu Boche. Seperti kita ketahui bahwa kontingen Indonesia tahun 2011 pernah meraih beberapa medali emas pada cabang ini pada olimpiade tunagrahita sedunia di Athena, Yunani. Sehingga tahun depan cabang olahraga Boche akan diperlombakan di tingkat nasional, agar Tim Indonesia bisa kembali mengharumkan bangsanya di kancah internasinal.

Sedangkan ABK jenjang pendidikan menengah atau SMALB diikuti sebanyak 192 siswa yang berlomba Atletik, Bulutangkis, dan Catur. Pada siswa SD ada 1.452 siswa mengikuti lomba Atletik, Bulutangkis, Sepak Bola Mini, Tenis Meja, Catur, Renang, Karate, Pencak Silat, Senam, Voli Mini, Tenis, Sepak Takraw.

Selama ini banyak anggapan di masyarakat bahwa kecacatan secara fisik atau mental identik atau sama dengan tidak sehat. Padahal cacat atau ketunaan itu beda dengan tidak sehat. "Orang penyandang cacat juga harus sehat," kata Direktur Pembinaan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus, Pendidikan Dasar (Dit.PPK-LK Dikdas) Kementerian Pendidikan Nasional Dr. Mudjito sehari menjelang O2SN.

ABK, seperti tunanetra atau tunadaksa, misalnya, mereka juga membutuhkan gerak fisik untuk menyehatkan tubuhnya. Namun, karena keterbatasan fisik tersebut, banyak anak-anak ABK yang tidak bisa memenuhi kesehatan jasmaninya.

"Mereka sangat terbatas gerak fisiknya. Karena itu pendidikan jasmani untuk anak-anak ABK harus dikembangkan kembali. Mereka membutuhkan pendidikan jasmani (Penjas) yang adaptif. Misalnya untuk anak yang hidup di kursi roda olahraganya harus kompatibel dengan gerak kursi roda," ujar Mudjito.

Menurutnya, Penjas adaptif di SLB maupun di sekolah inklusif bertujuan mencapai kebugaran, terapi dan pencapaian prestasi yang diperlukan untuk perubahan dan perkembangkan fisik dan jiwa. “Sehingga penyelenggaraan O2SN ini sebagai tolak ukur keberhasilan Penjas Adaptif dan aktivitas olahraga di sekolah khusus seperti SLB dan sekolah inklusif,” jelas Mudjito.

Olahraga, lanjut Mudjito, membantu anak-anak ABK dalam mengembangkan karakter dan kepribadiannya pada kehidupan sehari-hari. Setidaknya ada empat filosofi penting dalam kegiatan olahraga. Pertama, sikap sportif, kejujuran, menghargai teman dan saling mendukung, membantu dan penuh semangat kompetitif.

Kedua, sikap kerjasama, team work, saling percaya, berbagi, saling ketergantungan, dan kecakapan membuat keputusan bertindak. Ketiga, sikap dan watak yang senantiasa optimistik, antusiastik, partisipasif, kegembiraan dan humor. Keempat, pengembangan individu yang kreatif, penuh inisiatif, kepemimpinan, determinasi, kerja keras, kepercayaan diri, kebebasan bertindak dan kepuasan diri.

"Yang tak kalah penting dalam olahraga itu adalah kegembiraan, fun dan happy. Ini bisa mengekspresikan aktivitas mereka. Fun ini penting karena selama ini mereka terkungkung pada kehidupan rutinitasnya," ujar Mudjito.

Mudjito mengharapkan penyelenggaraan O2SN ini dapat meningkatkan motivasi, minat, bakat serta kecintaan siswa ABK terhadap olahraga adaptif, menumbuhkembangkan sikap toleransi, kompetitif dan sportifitas yang dapat dibanggakan baik nasional maupun internasional serta sebagai salah satu upaya pembentukan karakter bangsa.[\]

Rahmintama
Media Relations